![]() |
| Bima Arya Sugiarto (*ant/file) |
Jakarta, matanews.com – Konfederasi partai tak lolos batas ambang parlemen terus disuarakan PAN meski sejumlah elit parpol menolaknya. PAN bahkan kini fokus merayu 3 parpol besar guna meloloskan konsep konfederasi dalam UU Pemilu. Ketiga parpol tersebut adalah Partai Demokrat, PDIP, dan Partai Golkar.
“Dengan partai kecil non-PT (yang tidak lolos parliamentary treshold) pandangan kita tampaknya telah sepaham. Kini kita ingin fokus pada lobi partai besar, terutama Demokrat, PDIP dan Golkar. Tanpa mereka mungkin tidak ada perubahan ke sana,” kata Ketua DPP PAN Bima Arya Sugiarto di Jakarta, Selasa 24 Agustus 2010.
Pihaknya kini masih terus menyempurnakan konsep konfederasi untuk penyederhanaan parpol yang sesuai dengan karakteristik Indonesia. Terutama kini masuk hal-hal yang lebih detail.
“Masalah hilangnya suara rakyat menjadi fokus utama dalam masalah penyederhanaan parpol ke depan. Ini penting, karena ini merupakan jaminan agar setiap suara yang diberikan rakyat tersebut berharga, bukan dihanguskan,” kata Bima.
Konfederasi dinilai sebagai jalan keluar bagi parpol kecil apabila PT dan electoral threshold (ET) disahkan dalam revisi paket UU Politik. Konsekuensi dari peningkatan nilai PT dan ET adalah berkurangnya jumlah parpol yang dapat berlaga dalam Pemilu 2014 dan mendudukkan kadernya di DPR.
“Kita tidak terlalu terpaku pada nama dari konsep penyederhanaan parpol. Apakah konfederasi atau asimiliasi itu bukan masalah yang penting bagaimana suara rakyat itu kita perhatikan,” ujar Bima.
Ketua Umum PAN Hatta Rajasa sebelumnya menyatakan PAN memiliki kepekaan untuk memikirkan agar suara rakyat tidak dihapuskan. Bukan masalah PT itu 5 atau 10 atau 15 persen, tapi intinya bagaimana setiap suara rakyat itu tidak hilang. PAN harus mampu bekerja keras untuk merumuskan solusi dalam menyederhanakan sistem kepartaian tanpa mengabaikan suara rakyat yang telah memberikan hak pilihnya. (an/sss)






