Kondisi Ekonomi Eropa Semakin Memburuk

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi eropa. Corbis.

JAKARTA- Langkah lembaga pemeringkat Standar and Poor menurunkan peringkat surat utang sembilan negara Eropa menunjukkan kondisi ekonomi Eropa yang semakin memburuk.

Pengamat ekonomi, Agustinus Prasetyantoko, menilai pemangkasan rating surat utang sembilan negara eropa oleh lembaga pemeringkat standar and poor (S&P) sudah diprediksi sejak awal.

Kondisi ekonomi negara-negara kawasan Eropa yang belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan, merupakan salah satu faktor penilaian. Lembaga pemeringkat cenderung melihat kondisi perekonomian negara Eropa dalam jangka menengah, sebelum akhirnya memutuskan melakukan penilaian terhadap peringkat obligasi negara.

“Dengan kata lain, rating yang turun merupakan cerminan prospek ekonomi jangka menengah yang semakin buruk,” tegas Prasetyantoko kala dihubungi di Jakarta, akhir pekan lalu.

Rating surat utang negara, didasarkan atas rasio utang suatu negara, pengelolaan anggaran negara yang prudent dengan kemampuan menjaga defisit, pengelolaan moneter yang kredibel serta kemampuan membayar utang.

Kondisi di Eropa, diyakini semakin membahayakan. Surat utang negara-negara Eropa lainnya berpotensi diturunkan juga jika tidak berhati-hati dalam pengelolaan sistem perekonomiannya. Dia melihat, tren saat ini dan jangka menengah, semakin banyak negara yang potensi ekonomi turun dan berdampak pada kepercayaan investor.

“Negara maju cenderung turun rating, sedangkan negara berkembang termasuk Indonesia justru dinaikkan. Ini gambaran pergeseran epicentrum ekonomi dunia,” jelasnya.

Pras menuturkan, diturunkannya rating surat utang negara-negara Eropa diakui akan berdampak kepada negara berkembang, termasuk Indonesia. Mekipun Indonesia sudah termasuk negara-negara kategori layak investasi (investment grade), kondisi di Eropa cukup memengaruhi aliran modal ke dalam negeri.

Penurunan rating surat utang negara maju, membuat investor panik dan kemungkinan untuk menahan modalnya masuk ke pasar. Bahkan, untuk jangka pendek, investor berpotensi menarik dananya dari pasar.

“Aliran modal untuk jangka pendek atau portfolio ke Indonesia akan terganggu,” katanya. Namun, untuk jangka menengah, ketika investor mulai tenang, aliran modal justru semakin besar mengalir ke Indonesia yang dinilai risikonya semakin kecil.

Tags pada berita ini:

    bencana alam di negara tetangga, dataran rendah di eropa timur adalah, adat negara kamboja, gadis bungil, bencana alam di negara tetengga 2010, alat musik tradional kamboja, tarian khas negara kamboja, musik khas dari negara kamboja, nama negara myanmar pada awalnya, video lucu

Komentar via Facebook:

Tuliskan komentar. Mohon berkomentar dengan bahasa yang baik.

Email anda kami rahasiakan. Required fields are marked *

*
*

noafgan.com
promo iklan premium
[Close Ad]