Kisah ‘Manekin Hidup’ dari Bali

Langit Legian, Bali mulai gelap. Di bagian belakang sebuah butik surfing, tujuh gadis muda sibuk berdandan menghadap kaca besar — ada yang sedang memulas pemerah pipi, mewarnai kelopak mata dengan warna biru terang, atau meratakan bedak.

Lalu, di tengah kelap-kelip lampu dan hingar bingar musik yang dimainkan DJ, mereka berlengak-lenggok memamerkan produk andalan. Teras butik jadi catwalk dadakan.

Secara bergantian, para gadis berusia 16-23 tahun itu masuk ke etalase butik. Salah satu tugas yang harus dilakukan adalah berpose tanpa gerak selama sekitar 15 menit. Jadi manekin.

Aksi mereka menarik perhatian. Turis-turis bergerombol di depan etalase, ada yang mencoba menarik perhatian, ada juga yang sibuk memotret.

Laju kendaraan di jalan depan butik melambat, para pengendara, baik motor atau mobil memalingkan muka ke arah toko.

Tak seperti lazimnya butik atau toko pakaian yang memakai manekin alias boneka plastik untuk memajang barang dagangannya, gerai Surfing Girl di Legian memajang para manekin hidup.

Namun, tak setiap hari manekin hidup itu dipajang. Kata supervisor Surfing Girl Legian, Dina, gelaran manekin hidup dilakukan tiap Sabtu atau jika ada event tertentu.

Awalnya, tak hanya gerai di Legian yang memajang para manekin hidup, juga di Kuta Square. Namun, “karena ada bom kita jadi nggak berani,” kata Dina.

Tujuan para manekin hidup tentu saja untuk menarik pengunjung. “Di Bali, banyak toko surfing. Kita ingin sesuatu yang beda,” kata dia.

Kriteria model tak diterapkan untuk menyeleksi manekin hidup. “Bebas, yang penting teen [remaja], punya karakter. Lebih jutek lebih baik,” kata Dina.

Mengapa harus jutek? Sebab, “cobaan terberat menjadi manekin hidup adalah menahan godaan.  Banyak yang jahil, terutama bule-bule,” kata Desi Ayusatyas, 21.

Empat tahun jadi manekin hidup, sejak 2006, Desi mengaku kebal. “Syukur belum pernah gagal, mungkin karena muka saya sudah jutek,” kata dia.

Suatu hari, cerita Desi, dia berpose ala manekin sambil membawa tas. “Tiba-tiba ada bule masuk, tas saya ditarik-tarik. Tangan saya dicubiti. Mungkin dia penasaran, ini manusia atau patung,” kata Desi, memperagakan perlakuan turis asing itu, lalu tertawa.

Agar semirip mungkin dengan manekin, Desi berusaha agar tak sering berkedip. “Sampai mata saya berair.”

Kejadian serupa dialami Widya Jayanti, manekin hidup asal Bali. “Saat itu kami sedang disyuting sebuah televisi dari Australia. Waktu pose jadi manekin, saya diangkat kayak patung, padahal saat itu sedang pakai bikini,” kata dia.

Ditambahkan Widya, beberapa waktu lalu show bikini kerap dilakukan. Hingga muncul UU Pornografi dan pencekalan penyanyi dangdut, Dewi Persik.

“Alasan pelarangannya sih, karena membuat macet. Karena pakai bikini, orang-orang pada ngliatin, termasuk pemakai jalan.”

Bagaimana jika ada bagian tubuh yang gatal? “Kalau pantat gatal, misalnya, ya digaruk, tapi jangan ketauan. Caranya, pelan-pelan sambil ubah gaya,” kata Dini, 20, yang baru lima bulan jadi manekin hidup.

Untuk menjaga keamanan para manekin hidup, tiap show selalu dijaga petugas keamanan. “Tak jarang, ada yang ganggu sampai masuk ke dalam etalase, sampai ditarik security. Makanya harus dijaga,” kata staf Surfing Girl, Elsy.

Manekin hidup di Surfing Girl, Bali

Aksi para manekin hidup

• KoranBaru

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Komentar via Facebook:

Tuliskan komentar. Mohon berkomentar dengan bahasa yang baik.

Email anda kami rahasiakan. Required fields are marked *

*
*

noafgan.com
promo iklan premium
[Close Ad]