
Alimuddin alias Kambu, tengah asyik mengupas kelapanya
BONE – Kisah tentang ketangguhan para penyandang cacat di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, memang seakan tak ada habisnya. Kali ini, cerita datang dari Desa Patanga, Kecamatan Tellu Siattinge, Bone.
Alimuddin, seorang lelaki tunanetra di desa itu, harus rela menjadi pemanjat kelapa demi menghidupi istri dan empat orang anaknya. Meskipun tak bisa melihat, panjat memanjat pohon kelapa adalah hal yang mudah bagi lelaki yang biasa dipanggil Kambu.
Di tengah keterbatasan hidupnya, Kambu masih memiliki lahan yang ditanami kelapa. Letak lahan yang tak seberapa luas itu berjarak 400 meter dari rumah tinggalnya. Tapi ternyata, kebutuhan hidupnya tak bisa disandarkan pada tanah kecilnya itu.
Ia pun mencari tambahan dengan menjadi buruh pemanjat kelapa bagi warga di sekitar kampungnya. “Kalau tidak kerja seperti ini, saya tidak bisa menghidupi diri saya dan juga anak-anak saya. Jadi kalau soal memanjat kelapa saya sudah biasa, dengan mengandalkan rasa,” ungkap Kambu ringan.
Rasa menurut dia, bisa memberikannya petunjuk mana kelapa yang sudah bisa dipanen dan mana yang belum. Bahkan dia bisa menghafal jalan yang dilewatinya tiap hari bersama tongkatnya.
Setelah memanjat kelapa, dia tidak langsung dibayar dengan uang. Biasanya, ia menerima buah kelapa sebagai bayaran. Buah-buah itu lalu dijualnya dengan harga Rp 4.200 per kilogram. Uang itu pun baru bisa didapatnya, ketika musim panen kelapa tiba.
Hasil kerja kerasnya itulah yang kemudian dibawa pulang, untuk hidup bersama keluarganya, di rumah sempit berdinding papan, tanpa aliran listrik, di sisi bukit yang kerap longsor./kompas.com





