Candi-Candi yang Ditenggelamkan dan Diungkap oleh Sunami


“Seven Pagodas” atau Tujuh Pagoda telah menjadi julukan untuk kota di selatan India, Mahabalipuram, yang juga disebut Mamallapuram, sejak penjelajah Eropa pertama menginjakkan kaki di kota ini. Seperti yang dikutip dari Alam Mengembang Jadi Guru, ungkapan “Tujuh Pagoda” mengacu pada mitos yang telah lama beredar di India sebelumnya, baru ke Eropa, dan bagian lain dari dunia selama lebih dari sebelas abad.

Sebuah candi yang bernama Candi Pantai (Shore Temple) di Mahabalipuram, yang dibangun pada abad ke-8 di bawah pemerintahan Narasimhavarman II, berdiri di pantai Teluk Benggala. Legenda mengatakan bahwa enam candi lain pernah berdiri bersamanya.

 

MITOS
Sebuah legenda Hindu kuno ada yang menceritakan asal-usul pagoda. Pangeran Hiranyakasipu menolak untuk menyembah dewa Wisnu. Putra sang pangeran, Prahlada, yang mencintai Wisnu mengkritik kurangnya iman ayahnya. Hiranyakasipu membuang Prahlada tapi kemudian memanggilnya pulang kembali ke rumah. Ayah dan anak kembali mulai berdebat tentang Wisnu. Ketika Prahlada menyatakan bahwa Wisnu hadir di mana-mana, termasuk di dinding rumah mereka, ayahnya menendang sebuah pilar. Wisnu pun muncul dari pilar dalam bentuk seorang pria dengan kepala singa, dan membunuh Hiranyakasipu. Prahlada akhirnya menjadi raja, dan memiliki seorang putra bernama Bali. Bali mendirikan Mahabalipuram di situs ini.

 

Bukti kuno yang tidak jelas

Rathas Nakula & Sadewa, th 1914, bagian dari komplek 7 Pagoda

 

Asal candi telah dikaburkan oleh waktu, dan kurangnya catatan sejarah tertulis. D. R. Fyson, orang inggris yang menetap di Madras (sekarang Chennai), menulis sebuah buku singkat tentang kota ini berjudul ‘Mahabalipuram or Seven Pagodas’, yang dimaksudkan sebagai souvenir panduan untuk wisatawan Eropa. Di dalamnya, ia menyatakan bahwa Raja dinasti Pallava, Narasimharavarman I lah yang mulai membangun dan sekaligus memperbesar Mahabalipuram, sekitar 630 M. Saat itu belum ada bukti arkeologi yang menunjukkan apakah kota yang dibangun oleh Narasimharavarman I ini adalah yang pertama yang dihuni di lokasi ini.

Sekitar 30 tahun sebelum berdirinya kota Narasimharavarman I, Raja dari dinasti yang sama, Mahendravarman memulai serangkaian pembangunan “kuil gua” yang diukir dilereng bukit berbatu. Bertentangan dengan namanya, kebanyakan kuil gua ini bukan gua alami. Mahendravarman I dan Narasimharavarman I juga memerintahkan pembangunan kuil/candi yang berdiri bebas, yang disebut Rathas dalam bahasa daerah, Tamil. Sembilan Rathas saat itu berdiri di lokasi itu. Pembangunan kedua jenis candi di Mahabalipuram tampaknya berakhir sekitar 640 M. Fyson menyatakan bahwa bukti arkeologis mendukung klaim bahwa sebuah biara (vihara) ada di Mahabalipuram kuno. Ide biara diadopsi dari praktek penduduk Buddhis masa lalu di kawasan itu. Fyson menunjukkan bahwa tempat para biarawan mungkin telah dibagi antara sejumlah Rathas kota. Pengaruh Buddha juga tampak dalam bentuk pagoda tradisional dari Candi/Kuil Shore dan arsitektur lainnya yang masih tersisa.

Fyson mengkhususkan halaman terakhir dari buku tipisnya, untuk mitos yang sebenarnya dari tujuh pagoda. Dia menceritakan mitos lokal mengenai pagoda, bahwa Dewa Indra menjadi cemburu dengan kota duniawi yang megah ini dan kemudian menenggelamkannya selama badai besar, dan hanya menyisakan Shore Temple di atas air. Dia juga menceritakan pernyataan dari orang-orang Tamil setempat bahwa setidaknya beberapa dari candi lainnya dapat dilihat “berkilauan di bawah gelombang” dari perahu nelayan. Apakah enam pagoda yang hilang itu benar-benar ada atau tidak, tampaknya tidak menjadi perhatian utama Fyson. Namun, enam candi yang hilang terus memikat penduduk setempat, para arkeolog, dan para pecinta mitos.

 

Penjelajah (penjajah) Eropa
Sejarawan India N. S. Ramaswami menyebut Marco Polo sebagai salah satu orang Eropa yang pertama mengunjungi Mahabalipuram. Marco Polo meninggalkan beberapa rincian kunjungannya tetapi tidak menandainya pada Peta Catalan nya tahun 1275.

Banyak orang Eropa yang berkunjung kemudian, menceritakan kisah Tujuh Pagoda. Yang pertama menuliskannya adalah John Goldingham, seorang astronom Inggris yang tinggal di Madras di akhir abad 18 dan awal abad 19. Dia menulis akun kunjungannya dan legenda pada tahun 1798, yang kemudian dikumpulkan oleh Mark William Carr dalam bukunya yang diterbitkan tahun 1869 berjudul “Makalah Deskriptif dan Sejarah yang Berkaitan dengan Tujuh Pagoda di Coromandel Coast”. Dalam bukunya Goldingham menjelaskan semua seni, patung, dan prasasti yang ditemukan di seluruh situs arkeologi di Mahabalipuram. Dia menyalin banyak prasasti dengan tangan dan memasukkannya dalam esainya.

 

Pada tahun 1914, penulis inggris, J.W. Coombes mempercayai legenda pagoda setempat. Menurut dia, pagoda pernah berdiri di tepi pantai, dan kubah tembaga mereka merefleksikan sinar matahari dan menjadi tengara bahari. Dia menyatakan bahwa saat itu tidak diketahui dengan pasti, berapa banyak pagoda pernah ada. Ia percaya bahwa jumlahnya mungkin hampir tujuh.

Uniknya, sejarawan india, N.S. Ramaswami menuduh bahwa mitos tujuh pagoda yang dipercaya oleh orang eropa itu adalah dampak/akibat salah tafsir orang eropa terhadapi Syair seorang penyair eropa, Robert Southey, yang berjudul “The Curse of Kehama”, diterbitkan pada tahun 1810. Dalam puisinya, Southey jelas menyatakan bahwa lebih dari satu Pagoda terlihat. Tapi menurut Ramaswami, itu merujuk pada kota lain, bukan Mahabalipuram. Southey menceritakan kisah-kisah romantis dari banyak budaya di seluruh dunia, termasuk India, Roma, Portugal, Paraguay, dan suku-suku asli Amerika, yang semuanya didasarkan pada akun perjalanan orang lain, dan imajinasinya sendiri. Menurut Ramaswami “Kutukan Kehama” jelas mempengaruhi pemikiran orang eropa.

Ramaswami juga mengatakan bahwa penjelajah Eropa tidak sepenuhnya negatif. Dia mencatat bahwa, sebelum orang Eropa mulai mengunjungi India Selatan, banyak monumen kecil di Mahabalipuram yang sebagian atau seluruhnya ditutupi oleh pasir. Para penjajah dan keluarga mereka memainkan peran penting dalam mengungkap situs arkeologi di waktu luang mereka. Setelah para Arkeolog Inggris saat itu menyadari tingkat dan keindahan situs, menjelang akhir abad ke-18, mereka menunjuk antiquarians berpengalaman seperti Colin Mackenzie untuk memimpin penggalian.


Shore temple sekitar tahun 1914

 

Sebelum akhir 2004, semua bukti tentang keberadaan Tujuh Pagoda sebagian besar adalah anekdot. Keberadaan Shore Temple, candi yang lebih kecil dan Rathas hanya membuktikan bahwa daerah tersebut memiliki makna keagamaan yang kuat, tetapi ada sebuah bukti baru yaitu sebuah lukisan dari era Pallava yang menggambarkan sebuah komplek candi. Ramaswami bahkan menulis secara eksplisit dibukunya tahun 1993 yang berjudul “Candi-Candi di India Selatan”, bahwa “Tidak ada kota yang tenggelam di Mamallapuram. Julukan yang diberikan oleh orang Eropa , ‘The Seven Pagodas’ adalah irasional dan tidak dapat dipertanggungjawabkan”.

Namun kemudian pada tahun 2002 para ilmuwan memutuskan untuk menjelajahi daerah lepas pantai Mahabalipuram, dimana banyak nelayan Tamil modern yang mengaku telah melihat sekilas reruntuhan di dasar laut. Proyek ini merupakan upaya bersama antara National Institute of Oceanography (NIO, India) dan Scientific Exploration Society, (Vora, Inggris). Kedua tim menemukan sisa-sisa dinding di kedalaman 5 sampai 8 meter, dan 500 sampai 700 meter dari pantai. Tata letak dinding tersebut mengisaratkan bahwa mereka adalah dinding beberapa kuil. Para Arkeolog juga mengatakan bahwa dinding tersebut bertanggal kembali ke era Pallava, kira-kira saat Mahendravarman I dan Narasimharavarman I memerintah wilayah tersebut. Para ilmuwan juga menambahkan bahwa situs bawah air mungkin mengandung struktur tambahan dan artefak , dan layak untuk dieksplorasi lebih lanjut di masa depan.

 

Sesaat sebelum tsunami
Sesaat sebelum tsunami 26 desember 2004 melanda Samudera Hindia, termasuk Teluk Benggala, air laut di lepas pantai Mahabalipuram surut sekitar 500 meter. Banyak turis dan warga setempat yang menyaksikan peristiwa surutnya air laut ini melihat, barisan batu-batu besar yang panjang muncul dari air. Setelah sunami datang, batu-batu ini tertutup kembali oleh air. Namun, sedimen yang berabad abad telah menutupinya kini telah pergi. Tsunami juga membuat beberapa perubahan garis pantai, yang menyebabkan beberapa patung dan struktur kecil yang sebelumnya terendam air, ditemukan di pantai.


Candi yang terendam di Mahabalipuram

 

Setelah tsunami
Kesaksian para saksi yang melihat semacam bangunan sesaat sebelum sunami, kembali mendorong ketertarikan kalangan ilmiah terhadap situs ini. Mungkin temuan arkeologi paling terkenal setelah tsunami adalah patung batu singa besar, yang muncul di pantai karena perubahan garis pantai Mahabalipuram yang disebabkan oleh sunami. Patung singa ini ternyata berasal dari abad ke -7. Penduduk setempat dan wisatawan telah berbondong-bondong untuk melihat patung ini tak lama setelah tsunami.


Patung Singa

 

Pada April 2005, Survei Arkeologi India (ASI) dan Angkatan Laut India mulai mencari di perairan lepas pantai Mahabalipuram dengan perahu, menggunakan teknologi sonar (Das). Mereka menemukan bahwa deretan batu-batu besar yang telah dilihat orang sesaat sebelum tsunami adalah bagian dari dinding setinggi 6 kaki dan panjangnya 70 meter. ASI dan Angkatan Laut juga menemukan sisa-sisa dua candi terendam lain dan satu kuil gua dalam jarak 500 meter dari pantai. Meskipun temuan ini tidak/belum begitu sesuai dengan mitos tujuh pagoda, setidaknya mereka menunjukkan bahwa sebuah kompleks besar kuil berada di Mahabalipuram. Ini membuat mitos yang selama ini beredar menjadi lebih dekat dengan realitas – dan ada kemungkinan lebih banyak penemuan yang menunggu untuk ditemukan.

 

Arkeolog ASI, Alok Tripathi mengatakan kepada The Times of India pada wawancara Februari 2005, bahwa eksplorasi sonar telah memetakan dinding dalam dan luar dari dua candi yang terendam. Dia menjelaskan bahwa timnya belum bisa menunjukkan fungsi bangunan ini. A.K. Sharma dari Angkatan Laut India juga mengatakan kepada The Times of India bahwa tata letak struktur yang terendam ini terkait dengan Shore Temple dan struktur yang tidak terendam lainnya, dan juga cocok dengan lukisan era Pallava tentang komplek Tujuh Pagoda.


Ekskavasi situs di pantai Mahabalipuram, India.

 


Para peneliti menyelidiki sebuah artefak kuno yang diungkap oleh tsunami di pantai Mahabalipuram, 45 km sebelah selatan Madras, India, 17 Feb 2005

 

Arkeolog T. Satyamurthy dari ASI juga menyebutkan pentingnya temuan sebuah prasasti yang muncul di pantai setelah tsunami. Prasasti tersebut menyatakan bahwa Raja Krishna III telah membayar para penjaga api abadi di sebuah kuil tertentu. Para arkeolog mulai menggali di sekitar prasati tersebut ditemukan, dan dengan cepat menemukan struktur candi Pallava lain. Mereka juga menemukan banyak koin dan item yang digunakan dalam upacara keagamaan Hindu kuno. Saat penggalian candi era Pallava ini, para arkeolog juga menemukan fondasi era Tamil Sangam, berusia sekitar 2000 tahun. Kebanyakan arkeolog yang bekerja di situs percaya bahwa tsunami pernah melanda daerah ini kira-kira antara periode Tamil Sangam dan Pallava, menghancurkan kuil tua.

ASI secara tidak sengaja juga menemukan struktur yang jauh lebih tua di situs. Sebuah struktur bata kecil, yang sebelumnya tertutup oleh pasir, muncul di pantai setelah tsunami. Para arkeolog meneliti struktur itu, dan diketahui struktur itu berasal dari periode Tamil Sangam. Meskipun struktur ini tidak cocok dengan legenda tradisional, namun ini menambahkan intrik dan kemungkinan sejarah yang belum tereksplorasi di situs.

Pendapat di kalangan arkeolog saat ini adalah bahwa tsunami lain pernah menghancurkan kuil Pallava di abad ke-13. Ilmuwan ASI, G. Thirumoorthy mengatakan kepada BBC bahwa bukti fisik dari tsunami abad ke-13 dapat ditemukan di hampir sepanjang East Coast India.


Subrahmanya temple, salah satu candi yang terungkap oleh sunami 2004. Dipercaya sebagai salah satu dari 7 Pagoda

 

Candi-Candi yang Ditenggelamkan dan Diungkap oleh Sunami


“Seven Pagodas” atau Tujuh Pagoda telah menjadi julukan untuk kota di selatan India, Mahabalipuram, yang juga disebut Mamallapuram, sejak penjelajah Eropa pertama menginjakkan kaki di kota ini. Seperti yang dikutip dari Alam Mengembang Jadi Guru, ungkapan “Tujuh Pagoda” mengacu pada mitos yang telah lama beredar di India sebelumnya, baru ke Eropa, dan bagian lain dari dunia selama lebih dari sebelas abad.

Sebuah candi yang bernama Candi Pantai (Shore Temple) di Mahabalipuram, yang dibangun pada abad ke-8 di bawah pemerintahan Narasimhavarman II, berdiri di pantai Teluk Benggala. Legenda mengatakan bahwa enam candi lain pernah berdiri bersamanya.

 

MITOS
Sebuah legenda Hindu kuno ada yang menceritakan asal-usul pagoda. Pangeran Hiranyakasipu menolak untuk menyembah dewa Wisnu. Putra sang pangeran, Prahlada, yang mencintai Wisnu mengkritik kurangnya iman ayahnya. Hiranyakasipu membuang Prahlada tapi kemudian memanggilnya pulang kembali ke rumah. Ayah dan anak kembali mulai berdebat tentang Wisnu. Ketika Prahlada menyatakan bahwa Wisnu hadir di mana-mana, termasuk di dinding rumah mereka, ayahnya menendang sebuah pilar. Wisnu pun muncul dari pilar dalam bentuk seorang pria dengan kepala singa, dan membunuh Hiranyakasipu. Prahlada akhirnya menjadi raja, dan memiliki seorang putra bernama Bali. Bali mendirikan Mahabalipuram di situs ini.

 

Bukti kuno yang tidak jelas

Rathas Nakula & Sadewa, th 1914, bagian dari komplek 7 Pagoda

 

Asal candi telah dikaburkan oleh waktu, dan kurangnya catatan sejarah tertulis. D. R. Fyson, orang inggris yang menetap di Madras (sekarang Chennai), menulis sebuah buku singkat tentang kota ini berjudul ‘Mahabalipuram or Seven Pagodas’, yang dimaksudkan sebagai souvenir panduan untuk wisatawan Eropa. Di dalamnya, ia menyatakan bahwa Raja dinasti Pallava, Narasimharavarman I lah yang mulai membangun dan sekaligus memperbesar Mahabalipuram, sekitar 630 M. Saat itu belum ada bukti arkeologi yang menunjukkan apakah kota yang dibangun oleh Narasimharavarman I ini adalah yang pertama yang dihuni di lokasi ini.

Sekitar 30 tahun sebelum berdirinya kota Narasimharavarman I, Raja dari dinasti yang sama, Mahendravarman memulai serangkaian pembangunan “kuil gua” yang diukir dilereng bukit berbatu. Bertentangan dengan namanya, kebanyakan kuil gua ini bukan gua alami. Mahendravarman I dan Narasimharavarman I juga memerintahkan pembangunan kuil/candi yang berdiri bebas, yang disebut Rathas dalam bahasa daerah, Tamil. Sembilan Rathas saat itu berdiri di lokasi itu. Pembangunan kedua jenis candi di Mahabalipuram tampaknya berakhir sekitar 640 M. Fyson menyatakan bahwa bukti arkeologis mendukung klaim bahwa sebuah biara (vihara) ada di Mahabalipuram kuno. Ide biara diadopsi dari praktek penduduk Buddhis masa lalu di kawasan itu. Fyson menunjukkan bahwa tempat para biarawan mungkin telah dibagi antara sejumlah Rathas kota. Pengaruh Buddha juga tampak dalam bentuk pagoda tradisional dari Candi/Kuil Shore dan arsitektur lainnya yang masih tersisa.

Fyson mengkhususkan halaman terakhir dari buku tipisnya, untuk mitos yang sebenarnya dari tujuh pagoda. Dia menceritakan mitos lokal mengenai pagoda, bahwa Dewa Indra menjadi cemburu dengan kota duniawi yang megah ini dan kemudian menenggelamkannya selama badai besar, dan hanya menyisakan Shore Temple di atas air. Dia juga menceritakan pernyataan dari orang-orang Tamil setempat bahwa setidaknya beberapa dari candi lainnya dapat dilihat “berkilauan di bawah gelombang” dari perahu nelayan. Apakah enam pagoda yang hilang itu benar-benar ada atau tidak, tampaknya tidak menjadi perhatian utama Fyson. Namun, enam candi yang hilang terus memikat penduduk setempat, para arkeolog, dan para pecinta mitos.

 

Penjelajah (penjajah) Eropa
Sejarawan India N. S. Ramaswami menyebut Marco Polo sebagai salah satu orang Eropa yang pertama mengunjungi Mahabalipuram. Marco Polo meninggalkan beberapa rincian kunjungannya tetapi tidak menandainya pada Peta Catalan nya tahun 1275.

Banyak orang Eropa yang berkunjung kemudian, menceritakan kisah Tujuh Pagoda. Yang pertama menuliskannya adalah John Goldingham, seorang astronom Inggris yang tinggal di Madras di akhir abad 18 dan awal abad 19. Dia menulis akun kunjungannya dan legenda pada tahun 1798, yang kemudian dikumpulkan oleh Mark William Carr dalam bukunya yang diterbitkan tahun 1869 berjudul “Makalah Deskriptif dan Sejarah yang Berkaitan dengan Tujuh Pagoda di Coromandel Coast”. Dalam bukunya Goldingham menjelaskan semua seni, patung, dan prasasti yang ditemukan di seluruh situs arkeologi di Mahabalipuram. Dia menyalin banyak prasasti dengan tangan dan memasukkannya dalam esainya.

 

Pada tahun 1914, penulis inggris, J.W. Coombes mempercayai legenda pagoda setempat. Menurut dia, pagoda pernah berdiri di tepi pantai, dan kubah tembaga mereka merefleksikan sinar matahari dan menjadi tengara bahari. Dia menyatakan bahwa saat itu tidak diketahui dengan pasti, berapa banyak pagoda pernah ada. Ia percaya bahwa jumlahnya mungkin hampir tujuh.

Uniknya, sejarawan india, N.S. Ramaswami menuduh bahwa mitos tujuh pagoda yang dipercaya oleh orang eropa itu adalah dampak/akibat salah tafsir orang eropa terhadapi Syair seorang penyair eropa, Robert Southey, yang berjudul “The Curse of Kehama”, diterbitkan pada tahun 1810. Dalam puisinya, Southey jelas menyatakan bahwa lebih dari satu Pagoda terlihat. Tapi menurut Ramaswami, itu merujuk pada kota lain, bukan Mahabalipuram. Southey menceritakan kisah-kisah romantis dari banyak budaya di seluruh dunia, termasuk India, Roma, Portugal, Paraguay, dan suku-suku asli Amerika, yang semuanya didasarkan pada akun perjalanan orang lain, dan imajinasinya sendiri. Menurut Ramaswami “Kutukan Kehama” jelas mempengaruhi pemikiran orang eropa.

Ramaswami juga mengatakan bahwa penjelajah Eropa tidak sepenuhnya negatif. Dia mencatat bahwa, sebelum orang Eropa mulai mengunjungi India Selatan, banyak monumen kecil di Mahabalipuram yang sebagian atau seluruhnya ditutupi oleh pasir. Para penjajah dan keluarga mereka memainkan peran penting dalam mengungkap situs arkeologi di waktu luang mereka. Setelah para Arkeolog Inggris saat itu menyadari tingkat dan keindahan situs, menjelang akhir abad ke-18, mereka menunjuk antiquarians berpengalaman seperti Colin Mackenzie untuk memimpin penggalian.


Shore temple sekitar tahun 1914

 

Sebelum akhir 2004, semua bukti tentang keberadaan Tujuh Pagoda sebagian besar adalah anekdot. Keberadaan Shore Temple, candi yang lebih kecil dan Rathas hanya membuktikan bahwa daerah tersebut memiliki makna keagamaan yang kuat, tetapi ada sebuah bukti baru yaitu sebuah lukisan dari era Pallava yang menggambarkan sebuah komplek candi. Ramaswami bahkan menulis secara eksplisit dibukunya tahun 1993 yang berjudul “Candi-Candi di India Selatan”, bahwa “Tidak ada kota yang tenggelam di Mamallapuram. Julukan yang diberikan oleh orang Eropa , ‘The Seven Pagodas’ adalah irasional dan tidak dapat dipertanggungjawabkan”.

Namun kemudian pada tahun 2002 para ilmuwan memutuskan untuk menjelajahi daerah lepas pantai Mahabalipuram, dimana banyak nelayan Tamil modern yang mengaku telah melihat sekilas reruntuhan di dasar laut. Proyek ini merupakan upaya bersama antara National Institute of Oceanography (NIO, India) dan Scientific Exploration Society, (Vora, Inggris). Kedua tim menemukan sisa-sisa dinding di kedalaman 5 sampai 8 meter, dan 500 sampai 700 meter dari pantai. Tata letak dinding tersebut mengisaratkan bahwa mereka adalah dinding beberapa kuil. Para Arkeolog juga mengatakan bahwa dinding tersebut bertanggal kembali ke era Pallava, kira-kira saat Mahendravarman I dan Narasimharavarman I memerintah wilayah tersebut. Para ilmuwan juga menambahkan bahwa situs bawah air mungkin mengandung struktur tambahan dan artefak , dan layak untuk dieksplorasi lebih lanjut di masa depan.

 

Sesaat sebelum tsunami
Sesaat sebelum tsunami 26 desember 2004 melanda Samudera Hindia, termasuk Teluk Benggala, air laut di lepas pantai Mahabalipuram surut sekitar 500 meter. Banyak turis dan warga setempat yang menyaksikan peristiwa surutnya air laut ini melihat, barisan batu-batu besar yang panjang muncul dari air. Setelah sunami datang, batu-batu ini tertutup kembali oleh air. Namun, sedimen yang berabad abad telah menutupinya kini telah pergi. Tsunami juga membuat beberapa perubahan garis pantai, yang menyebabkan beberapa patung dan struktur kecil yang sebelumnya terendam air, ditemukan di pantai.


Candi yang terendam di Mahabalipuram

 

Setelah tsunami
Kesaksian para saksi yang melihat semacam bangunan sesaat sebelum sunami, kembali mendorong ketertarikan kalangan ilmiah terhadap situs ini. Mungkin temuan arkeologi paling terkenal setelah tsunami adalah patung batu singa besar, yang muncul di pantai karena perubahan garis pantai Mahabalipuram yang disebabkan oleh sunami. Patung singa ini ternyata berasal dari abad ke -7. Penduduk setempat dan wisatawan telah berbondong-bondong untuk melihat patung ini tak lama setelah tsunami.


Patung Singa

 

Pada April 2005, Survei Arkeologi India (ASI) dan Angkatan Laut India mulai mencari di perairan lepas pantai Mahabalipuram dengan perahu, menggunakan teknologi sonar (Das). Mereka menemukan bahwa deretan batu-batu besar yang telah dilihat orang sesaat sebelum tsunami adalah bagian dari dinding setinggi 6 kaki dan panjangnya 70 meter. ASI dan Angkatan Laut juga menemukan sisa-sisa dua candi terendam lain dan satu kuil gua dalam jarak 500 meter dari pantai. Meskipun temuan ini tidak/belum begitu sesuai dengan mitos tujuh pagoda, setidaknya mereka menunjukkan bahwa sebuah kompleks besar kuil berada di Mahabalipuram. Ini membuat mitos yang selama ini beredar menjadi lebih dekat dengan realitas – dan ada kemungkinan lebih banyak penemuan yang menunggu untuk ditemukan.

 

Arkeolog ASI, Alok Tripathi mengatakan kepada The Times of India pada wawancara Februari 2005, bahwa eksplorasi sonar telah memetakan dinding dalam dan luar dari dua candi yang terendam. Dia menjelaskan bahwa timnya belum bisa menunjukkan fungsi bangunan ini. A.K. Sharma dari Angkatan Laut India juga mengatakan kepada The Times of India bahwa tata letak struktur yang terendam ini terkait dengan Shore Temple dan struktur yang tidak terendam lainnya, dan juga cocok dengan lukisan era Pallava tentang komplek Tujuh Pagoda.


Ekskavasi situs di pantai Mahabalipuram, India.

 


Para peneliti menyelidiki sebuah artefak kuno yang diungkap oleh tsunami di pantai Mahabalipuram, 45 km sebelah selatan Madras, India, 17 Feb 2005

 

Arkeolog T. Satyamurthy dari ASI juga menyebutkan pentingnya temuan sebuah prasasti yang muncul di pantai setelah tsunami. Prasasti tersebut menyatakan bahwa Raja Krishna III telah membayar para penjaga api abadi di sebuah kuil tertentu. Para arkeolog mulai menggali di sekitar prasati tersebut ditemukan, dan dengan cepat menemukan struktur candi Pallava lain. Mereka juga menemukan banyak koin dan item yang digunakan dalam upacara keagamaan Hindu kuno. Saat penggalian candi era Pallava ini, para arkeolog juga menemukan fondasi era Tamil Sangam, berusia sekitar 2000 tahun. Kebanyakan arkeolog yang bekerja di situs percaya bahwa tsunami pernah melanda daerah ini kira-kira antara periode Tamil Sangam dan Pallava, menghancurkan kuil tua.

ASI secara tidak sengaja juga menemukan struktur yang jauh lebih tua di situs. Sebuah struktur bata kecil, yang sebelumnya tertutup oleh pasir, muncul di pantai setelah tsunami. Para arkeolog meneliti struktur itu, dan diketahui struktur itu berasal dari periode Tamil Sangam. Meskipun struktur ini tidak cocok dengan legenda tradisional, namun ini menambahkan intrik dan kemungkinan sejarah yang belum tereksplorasi di situs.

Pendapat di kalangan arkeolog saat ini adalah bahwa tsunami lain pernah menghancurkan kuil Pallava di abad ke-13. Ilmuwan ASI, G. Thirumoorthy mengatakan kepada BBC bahwa bukti fisik dari tsunami abad ke-13 dapat ditemukan di hampir sepanjang East Coast India.


Subrahmanya temple, salah satu candi yang terungkap oleh sunami 2004. Dipercaya sebagai salah satu dari 7 Pagoda

 

Letusan Gunung Samalas Lebih Dahsyat dari Krakatau dan Tambora


Satu Lagi Gunung di Indonesia yang meletus bahkan lebih dahsyat dari Krakatau dan Tambora terungkap. Abu letusannya bahkan sampai di kedua kutub bumi. …

Salah satu misteri bencana besar dalam sejarah mungkin telah terpecahkan – yaitu kasus letusan gunung berapi terbesar dalam 3.700 tahun terakhir. Terjadi sekitar hampir 800 tahun yang lalu, letusan ini telah tercatat, dan kemudian terlupakan, dan mungkin juga telah menciptakan sebuah “Pompeii dari Timur”, yang mungkin terkubur dan menunggu untuk ditemukan di sebuah pulau di Indonesia.

Seperti yang dikutip dari Alam Mengembang jadi Guru, bukti abu dari letusan yang tersebar hingga kutub selatan maupun kutub utara, telah menunjuk kepada gunung berapi Samalas di Pulau Lombok di Indonesia. Tim peneliti, yang dipimpin oleh ahli geografi Franck Lavigne dari Université Paris 1 Panthéon – Sorbonne, kini telah memperkirakan bahwa bencana besar itu terjadi antara Mei dan Oktober 1257. Penemuan ini dipublikasikan kemaren dalam Prosiding National Academy of Sciences .

Semenjak glaciologists menemukan bukti-bukti adanya letusan besar tiga dekade lalu, para ahli gunung berapi telah mencari asal letusan di mana-mana dari gunung berapi Okataina Selandia Baru hingga ke El Chichon Meksiko.

Sebelumnya letusan itu diperkirakan delapan kali lebih besar dari letusan Krakatau tahun 1883 dan dua kali lebih besar dari letusan Tambora tahun 1815. Sampai saat ini kita selalu berpikir bahwa Tambora adalah letusan terbesar sejak 3.700 tahun, tapi studi ini menunjukkan bahwa peristiwa di tahun 1257 itu bahkan lebih besar dari Tambora.

 

Misteri Letusan Terpecahkan.
Untuk memecahkan misteri ini, tim multidisiplin ilmu menggabungkan petunjuk-petunjuk yang telah diketahui dengan hasil temuan baru, yaitu uji radiokarbon, kimia ejecta vulkanis, data stratigrafi, dan catatan-catatan sejarah. Letusan ini dikenal oleh banyak disiplin ilmu yang berbeda, banyak peneliti, tetapi masalah utamanya adalah mereka bekerja secara individual. Untuk itulah dibentuk tim yang terdiri dari ahli geologi, geokimia, geografi, sejarawan, ahli uji radiokarbon dan lain-lain yang kesemuanya dari spesialisasi yang berbeda untuk menggabungkan fakta-fakta.”


Gunung Samalas, Lombok (Bawah). Hari ini yang tersisa dari Samalas adalah sebuah kawah besar (Atas).

 

Letusan gunung berapi tersebut melepaskan 40 kilometer kubik puing ke langit hingga setinggi 43 kilometer, menghasilkan hujan abu yang menetap di seluruh dunia. Di dekat gunung itu sendiri, menumpuk endapan tebal yang dikumpulkan oleh tim di lebih dari 130 tempat untuk menghasilkan gambaran stratigrafi dan sedimentologis dari cara letusan tersebut terjadi .

Para ilmuwan mengetahui kapan terjadinya letusan dengan uji radiokarbon dari sampling batang dan cabang pohon-pohon di sepanjang sisi-sisi dari gunung Samalas dan Rinjani. Data radiokarbon adalah konsisten dengan tanggal letusan abad pertengahan dan tidak menunjukkan sampel lebih muda dari 1257. Penanggalan radiokarbon ini mengesampingkan kemungkinan kandidat lainnya, seperti El Chichon dan Okataina, yang letusan terjadi di luar waktu tersebut.


Peta ini menunjukkan sebaran Pumice, batu vulkanik yang ringan dan berpori sebesar 50 mm hingga sejauh 46 km ke sebelah tenggara dari vent Sumbawa. Para ilmuwan mengklaim ini menunjukkan besarnya letusan Samalas

 

Lebih jauh, dua dekade lalu telah terungkap adanya sulfat vulkanik dan tephra yang terkunci dalam sampel inti es yang diambil dari Greenland dan Antartika. Itulah bukti kuat atau “sidik jari” dari Letusan tersebut, karena diketahui dari keduanya bahwa letusan yang terjadi adalah letusan dari Gunung berapi tropis.
Hal itu mempersempit kandidat lebih lanjut. Gunung Quilotoa Ekuador tidak menghasilkan kaldera besar saat letusannya terjadi pada sekitar periode waktu yang sama, dan hanya kaldera besar seperti di Segara Anak lah satu-satunya kandidat. Studi komposisi Geokimia dari material vulkanis yang ditemukan di kedua lapisan es di Greenland dan Antartika jauh lebih sedikit kesamaannya dengan material vulkanis dari Quilotoa – tapi memiliki kesamaan komposisi yang sangat meyakinkan dengan material vulkanis Samalas.


Peta ini menunjukkan distribusi arus kepadatan piroklastik ( pDCs ) dari letusan Samalas dan lokasi sampel arang yang digunakan untuk penanggalan radiokarbon. Letusan Besar yang terjadi hampir 800 tahun yang lalu, mungkin telah membuatnya ‘Pompeii dari Timur’, menurut para peneliti

 

Dampak Dirasakan di Seluruh Dunia
Meskipun letusan itu terjadi di khatulistiwa, dampaknya terasa dan tercatat di seluruh dunia. Iklim terganggu selama setidaknya dua tahun setelah letusan. Bukti ini ditemukan dalam studi cincin pohon yang mengungkapkan tingkat abnormal pertumbuhan, model iklim, dan catatan sejarah dari tempat yang jauh seperti Eropa.

Sejarah abad pertengahan, misalnya, menggambarkan musim panas 1258 sebagai musim dingin, dengan panen yang buruk dan hujan terus-menerus yang memicu banjir yang merusak – dikenal sebagai “tahun tanpa musim panas”. Namun musim dingin yang terjadi setelah letusan itu dirasakan lebih hangat di Eropa Barat, seperti yang seharusnya terjadi dari sebuah letusan dengan kadar belerang tinggi di daerah tropis. Sebuah catatan sejarah dari Arras (Prancis utara ) berbicara tentang musim dingin yang sangat ringan “yang membeku hanya berlangsung selama beberapa hari,” dan bahkan di bulan Januari 1258 “violet dapat diamati, dan stroberi serta pohon apel telah bermekaran.”

Di Indonesia, sebuah bencana besar dapat ditemukan pada catatan-catatan yang ditulis pada daun lontar, teks-teks Jawa Kuno dari Babad Lombok yang menggambarkan ledakan vulkanik besar yang membentuk kaldera di Gunung Samalas, di Pulau Lombok. Tulisannya menggambarkan kematian ribuan orang karena hujan abu yang mematikan dan aliran piroklastik yang menghancurkan Pamatan, ibukota kerajaan, dan daerah di sekitarnya. Meskipun catatan-catatan sejarah tersebut tidak menuliskan tanggal yang pasti, tapi mereka menyatakan bahwa bencana itu terjadi sebelum akhir abad ke-13, cocok dengan bukti ilmiah lain yang telah ditemukan dari letusan.

Deskripsi sebuah letusan besar sebenarnya sangat jarang karena letusan seperti itu terjadi hanya sekitar sekali setiap 600 tahun. Ini semacam kronik yang hanya ditulis jika salah satu dari letusan besar terjadi cukup dekat dengan tempat orang yang menulis catatan tapi tidak sangat dekat dengan letusan yang dapat menghajar mereka itu.


Observasi lapangan pada lapisan piroklastik dari Samalas menunjukkan ketebalan maksimum yang diukur melebihi 1 m, dan kumulatif deposit mencapai hingga 1.60m

 

Dalam kasus Samalas, sisa-sisa fisik jauh lebih menggoda daripada teks atau catatan. Kerajaan kuno Pamatan di Lombok mungkin terkubur oleh ledakan yang sangat besar ini dan menunggu untuk ditemukan. Pamatan mungkin akan mirip Pompeii dan bisa disebut Pompeii nya Asia Timur .

Ini tentu menarik. Kadang-kadang efek dari aliran piroklastik dapat relatif lembut, seperti Pompeii di mana abu membunuh semua orang tetapi tidak melenyapkan kota. Letusan lainnya, seperti bagian dari Gunung St Helens pada tahun 1980, meratakan seluruh desa, sehingga kadang-kadang piroklastik juga menghancurkan segalanya. Kita benar-benar belum tahu.

 

Sekilas Urutan Kerajaan-Kerajaan di Lombok
Secara selintas, urutan berdirinya kerajaan-kerajaan di daerah ini bisa dirunut sebagai berikut, dengan catatan bahwa ini bukan satu-satunya versi yang berkembang. Pada awalnya, kerajaan yang berdiri adalah Laeq. Diperkirakan, posisinya berada di kecamatan Sambalia, Lombok Timur. Dalam perkembangannya, kemudian terjadi migrasi, masyarakat Laeq berpindah dan membangun sebuah kerajaan baru, yaitu kerajaan Pamatan, di Aikmel, desa Sembalun sekarang. Lokasi desa ini berdekatan dengan Gunung Samalas. Sekitar tahun 1257, Gunung Samalas meletus Dahsyat, menghancurkan desa dan kerajaan yang berada di sekitarnya. Para penduduk menyebar menyelamatkan diri ke wilayah aman. Perpindahan tersebut menandai berakhirnya kerajaan Pamatan.

Setelah Pamatan berakhir, muncullah kerajaan Suwung yang didirikan oleh Batara Indera. Lokasi kerajaan ini terletak di daerah Perigi saat ini. Setelah kerajaan Suwung berakhir, barulah kemudian muncul kerajaan Lombok. Seiring perjalanan sejarah, kerajaan Lombok kemudian mengalami kehancuran akibat serangan tentara Majapahit pada tahun 1357 M. Raden Maspahit, penguasa kerajaan Lombok melarikan diri ke dalam hutan. Ketika tentara Majapahit kembali ke Jawa, Raden Maspahit keluar dari hutan dan mendirikan kerajaan baru dengan nama Batu Parang. Dalam perkembangannya, kerajaan ini kemudian lebih dikenal dengan nama Selaparang.


Para Kepala suku Sasak, Lombok di Jaman Kolonial

 

Berkaitan dengan Selaparang, kerajaan ini terbagi dalam dua periode: pertama, periode Hindu yang berlangsung dari abad ke-13 M, dan berakhir akibat ekspedisi kerajaan Majapahit pada tahun 1357 M; dan kedua, periode Islam, berlangsung dari abad ke-16 M, dan berakhir pada abad ke-18 (1740 M), setelah ditaklukkan oleh pasukan gabungan kerajaan Karang Asem, Bali dan Banjar Getas.

Sebelum Abad ke 16 Lombok berada dalam kekuasan Majapahit, dengan dikirimkannya Maha Patih Gajah Mada ke Lombok. Pada akhir abad ke 16 sampai awal abad ke 17, lombok banyak dipengaruhi oleh Jawa Islam melalui dakwah yang dilakukan oleh Sunan Giri, juga dipengaruhi oleh Makassar. Hal ini yang menyebabkan perubahan agama di suku Sasak, yang sebelumnya Hindu menjadi Islam.

Pada awal abad ke 18 M, Lombok ditaklukkan oleh kerajaan Gel Gel Bali. Peninggalan Bali yang sangat mudah dilihat adalah banyaknya komunitas Hindu Bali yang mendiami daerah Mataram dan Lombok Barat. Beberapa Pura besar juga gampang di temukan di kedua daerah ini. Lombok berhasil bebas dari pengaruh Gel Gel setelah terjadinya pengusiran yang dilakukan kerajaan Selaparang (Lombok Timur) dengan dibantu oleh kerajaan yang ada di Sumbawa (pengaruh Makassar). Beberapa prajurit Sumbawa kabarnya banyak yang akhirnya menetap di Lombok Timur, terbukti dengan adanya beberapa desa di Tepi Timur Laut Lombok Timur yang penduduknya mayoritas berbicara menggunakan bahasa Samawa.

Uraian di atas setidaknya bisa menunjukkan bahwa, kerajaan-kerajaan tersebut benar-benar ada, pernah berdiri, berkembang kemudian runtuh. Bagaimana informasi selanjutnya, seperti kehidupan sosial budaya masyarakat awam dan keluarga istana saat itu? Data sejarah yang ada belum banyak mengungkap fakta tersebut.

Kerajaan yang Terkubur Letusan Tambora


Letusan gunung berapi Tambora tahun 1815 menewaskan 117.000 orang di Asia Tenggara, termasuk yang diyakini terkubur tiga meter di bawah batu dan abu di pemukiman yang baru ditemukan.

Seperti yang dikutip dari Alam Mengembang Jadi Guru, Letusan Gunung Tambora 1815 mengeluarkan material vulkanik hingga 100 kilometer kubik batuan cair dan bubuk dan memuntahkan 400 juta ton gas sulfur setinggi 43 kilometer ke atmosfer. Sebagai perbandingan, letusan Gunung St Helens tahun 1980 di Washington State mengeluarkan 0,5 kilometer kubik lava, letusan Krakatau tahun 1883 Krakatau di Indonesia mengeluarkan 15 kilometer kubik batuan cair; Vesuvius mengeluarkan 6 kilometer kubik lava.

 

“Tambora jauh lebih besar dari semua itu” kata Sigurdsson. “Ini benar-benar yang letusan terbesar di Bumi dalam sejarah yang tercatat.”

Sebelum meletus, tinggi gunung tambora mencapai sekitar 13.800 kaki (4.200 meter). Saat ini tingginya sekitar 9.200 kaki (2.800 meter) dan memiliki kaldera yang dalamnya 4.100 kaki (1.250 meter).

Gas-gas belerang dimuntahkan ke atmosfer oleh Tambora membentuk tetesan aerosol yang memantulkan sinar matahari sebelum mencapai tanah. Hal ini menyebabkan satu tahun pendinginan global pada tahun 1816 yang sekarang dikenal sebagai tahun tanpa musim panas. Suhu dingin memicu kegagalan panen yang meluas, kekurangan pangan, dan wabah penyakit, mungkin menimbulkan korban tambahan 200.000 orang di seluruh dunia, kata Sigurdsson. “Ada masalah yang luar biasa di Eropa tengah dan di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat,” katanya.

Pada tahun 1980, orang mulai memperhatikan ketika para pekerja dari sebuah perusahaan penebangan komersial mulai melakukan pengerukan dan menemukan fragmen tembikar dan tulang belulang di daerah dekat desa kecil Pancasila di pulau Sumbawa, Indonesia. Penduduk lokal lain mulai menemukan koin, barang kuningan dan kayu hangus di wilayah yang sama, semua terkubur di bawah lapisan tebal endapan vulkanik. Temuan yang tidak jauh dari kaki gunung berapi Tambora, gunung berapi itu, pada bulan April 1815, menghasilkan letusan terbesar dalam sejarah. Bahkan, karena begitu kuatnya, letusan tersebut, efeknya di atmosfer mempengaruhi pola cuaca di seluruh Eropa dan Amerika Utara yang jauh. Dan dalam satu malam saja, menghancurkan sedikitnya satu kerajaan di dekat kakinya.

 

Bertindak pada penemuan tahun 2004, vulkanologi Haraldur Sigurdsson dari Universitas Rhode Island mulai menyelidiki area hutan dengan menggunakan Ground Penetrating Radar. Dia mengidentifikasi rumah lengkap terkubur di bawah 2-3 meter aliran piroklastik dan endapan. Meskipun seluruhnya hangus, namun bentuknya tetap terlihat dan terawetkan, sehingga memungkinkan untuk membedakan balok dan lantai bambu. Artefak yang ditemukan di dalam struktur termasuk porselen Cina, peralatan besi dan mangkuk tembaga. Dua korban juga ditemukan, satu kerangka lengkap ditemukan dekat perapian di area dapur dan yang kedua, yang sangat rusak parah, teridentifikasi hanya dengan tulang kaki dan tulang belakang, ditemukan di beranda.


Satu korban yang ditemukan selama penggalian tahun 2009. Lengan kirinya melindungi kepalanya mungkin dalam usaha (yang gagal) untuk melindungi dirinya dari kematian. Balok balok rumah terbakar juga terlihat

 

Penemuan Sigurdsson memicu serangkaian penggalian resmi mulai tahun 2006 dan berlanjut sampai hari ini di bawah arahan Dr M. Geria dari Institut Arkeologi Bali. Apa yang mereka temukan adalah, seperti sisa-sisa Pompeii, struktur rumah yang hangus tapi tetap sangat terawat baik , tubuh manusia, dan banyak perlengkapan hidup di saat-saat terakhir mereka yang “dibekukan” oleh waktu. Pada tahun 2008, ditemukan rumah yang mengandung kerangka pria yang duduk tegak, dihiasi dengan kotak tembakau tembaga terikat pada pinggang dan tombak upacara di sisinya. Dia memakai cincin bertatahkan batu mulia, gelang di pergelangan tangannya, dan bandul kalung kuningan besar di lehernya. Selama musim penggalian 2009, rumah dalam bentuk arang lainnya ditemukan, kali ini dengan tubuh berbaring di luar di bawah reruntuhan vulkanik, dengan lengan kirinya melindungi kepala, mungkin dalam usaha (yang gagal) untuk melindungi dirinya dari guguran abu vulkanik. Pada tahun 2011, sisa-sisa rumah juga telah diidentifikasi.

 

“Berdasarkan artefak yang ditemukan, terutama benda perunggu dan perhiasan yang banyak adalah bukti yang menunjukkan situs ini pernah dihuni oleh orang kaya atau elit yang telah tumbuh makmur melalui perdagangan” kata Emma Johnston, seorang anggota tim investigasi dan kandidat Ph.D dari Bristol University (Inggris). “Bukti sejarah mendukung teori ini, orang-orang tambora secara historis dikenal di Hindia Timur untuk madu, kuda, pewarna merah dan kayu cendana mereka. Desain dan dekorasi dari artefak menunjukkan bahwa budaya Tamboran dikaitkan dengan Vietnam dan Kamboja.”

Para peneliti utama berharap untuk tidak hanya belajar lebih banyak tentang satu kerajaan yang terkubur ini, yang mereka perkirakan memiliki penduduk sekitar 10.000 orang, tetapi juga tentang kronologi peristiwa dan aktifitas yang menggambarkan rincian tentang bagaimana mereka menemui ajalnya.

Johnston mengatakan:. “Kita tahu dari penggalian dan stratigrafi endapan bahwa rumah-rumah kebanyakan dihuni ketika hujan pumice (batu batu dari gunung), menyebabkan runtuhnya rumah, menjebak dan menewaskan orang-orang yang berada di dalamnya. Bukti yang telah ditemukan hingga kini menunjukkan ini adalah nasib semua korban yang telah diidentifikasi sejauh ini. ”

Tim peneliti akan kembali ke situs ini lagi. “Penggalian sejauh ini hanya menggaruk permukaan”, kata Johnston. “Banyaknya temuan menunjukkan bahwa ada banyak lagi yang masih menunggu untuk ditemukan di situs ini.”

Sebuah artikel rinci tentang letusan dan penggalian serta studi kerajaan yanga hilang di Tambora telah diterbitkan dalam majalah Arkeologi Populer.

Saat Mengerikan Dua Turis sedang Berenang Didekati Hiu Besar

Dua perenang tergesa-gesa keluar dari air saat hiu mendekat.

Dua orang yang sedang melakukan liburan di salah satu pantai di Florida, harus harus mengakhiri kegiatan berenang di pantai yang menjadi favorit wisatawan. Padahal saat itu, cuaca sedang bagus dan dua orang tersebut sedang berenang yang tidak jauh dari bibir pantai.

Namun hewan ganas dari lautan, hiu, memaksa mereka keluar dari pantai yang cukup tenang tersebut. Dan mereka berada tidak jauh dari pemangsa di lautan tersebut. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, mereka harus kembali kedaratan dengan tergesa-gesa.

Kejadian tersebut terjadi pada hari libur Sabtu,30 Agustus, dan terlihat dari salah satu balkon di hotel, dekat pantai Fort Walton di Destin, Florida. Saat sedang asyik bermain air dan berenang, keduanya tidak sadar, jika hiu besar berada dekat dengan mereka.

Perekam sempat berteriak agar mereka segera keluar dari air, namun akhirnya hiu tersebut memercikkan air, sehingga mereka tersadar, jika kahadiran mereka dibuntuti oleh mahluk mematikan di lautan.

Beruntung, mereka keluar dari air sebelum hiu tersebut berhasil berada dekat dengan perenang tersebut. Untuk melihat videonya, silahkan klik tautan berikut ini: Daily Mail

5 Cara Aneh Rasakan Orgasme Tanpa Bercinta


Bicara tentang orgasme, semua orang tentu memikirkan seks dan aktivitas bercinta dengan pasangan. Faktanya, orgasme tak hanya bisa didapatkan dengan bercinta. Ada beberapa hal yang bisa membuat seseorang merasakan orgasme tanpa adanya penetrasi saat melakukan hubungan seksual.

Lantas, apa saja aktivitas atau cara orang merasakan orgasme tanpa melakukan penetrasi seksual? Berikut adalah beberapa cara yang diketahui bisa memicu orgasme pada seseorang tanpa harus melakukan hubungan seksual ataupun masturbasi, seperti yang dikutip dari merdeka.com.

 

1. Orgasme energi

Jessica O’Reilly, seorang ahli dalam bidang seks yang telah menulis buku “The New Sex Bible: The New Guide to Sexual Love” menjelaskan bahwa selama ini seks selalu dilihat terlalu sempit hanya dalam tataran fisik. Padahal seks yang paling panas justru terjadi pada bagian di antara telinga, yaitu pada otak.

Memang benar bahwa gairah seringkali dipicu oleh fisik dan mental. Namun jika orang mau mencoba cukup keras, sesungguhnya imajinasi juga bisa membuat seseorang merasakan nikmatnya bercinta tanpa harus melakukan hubungan fisik. Menurut O’Reilly beberapa orang bisa merasakan orgasme hanya dengan pikiran dan pernapasan. Ini disebut sebagai orgasme energi. Namun metode ini membutuhkan konsentrasi mental yang sangat tinggi dan tipe pernapasan khusus. Meski begitu, kedua hal ini bisa dipelajari jika Anda mau mencobanya.

Lantas, apakah orgasme energi ini benar-benar bisa berhasil? Penelitian di Rutgers University mengungkap melalui scan MRI otak bahwa orgasme energi menunjukkan reaksi yang sama pada otak seperti ketika seseorang merasakan orgasme dari alat genital mereka.

 

2. Orgasme payudara

Siapa bilang klitoris adalah satu-satunya bagian tubuh wanita yang bisa membuatnya merasakan orgasme. Pria tak seharusnya hanya berfokus pada miss V dan klitoris untuk membuat wanita orgasme, karena wanita juga bisa merasakan orgasme hanya dengan rangsangan pada payudara mereka.

Peneliti telah menemukan bahwa merangsang bagian puting payudara wanita bisa mengaktifkan bagian otak yang sama seperti mereka merangsang klitoris. Peneliti berpendapat bahwa keduanya berbagi saraf yang sama yang akan memproduksi oxytocin, yaitu zat kimia yang memicu perasaan nikmat dan tenang. Oxytocin akan melonjak ketika seseorang akan mengalami orgasme.

Berdasarkan sebuah penelitian, seorang pakar seks Herbert Otto Ph.D menemukan bahwa 29 persen wanita mengalami orgasme payudara saat bercinta. Yang lebih unik, kebanyakan wanita sebenarnya mengakui bahwa bagian sensitif pada payudara mereka adalah di bagian atas areola, atau bagian hitam pada puting payudara.

 

3. Orgasme pusar

Kebanyakan orang berpikir bahwa pusar adalah salah satu bagian tubuh yang tak memiliki fungsi. Pusar juga sering disebut sebagai bagian tubuh yang paling berkuman. Namun jangan salah, karena bagi beberapa orang, pusar bisa memberikan kenikmatan yang sama seperti orgasme ketika dirangsang. Jika rangsangan yang diterima cukup kuat, mereka bahkan bisa merasakan orgasme hanya dari pusar saja.

Meski belum banyak penelitian mengenai hal ini, namun menurut teori, rangsangan pada pusar bisa sampai pada saraf vagus yang menghubungkan antara serviks dan otak. Bagi pria, saraf vagus ini bisa memberikan rasa mual seperti ketika skrotum mereka ditendang. Namun bagi wanita, saraf ini bisa membuat mereka merasakan orgasme.

 

4. Orgasme olahraga

Anda tentu pernah mendengar olahraga yang bisa menunjang kegiatan seks seperti pilates, kegel, dan lainnya. Namun selain olahraga yang memang ditujukan untuk menguatkan otot organ intim dan meningkatkan gairah seksual. terdapat juga jenis olahraga yang bisa memicu orgasme pada pelakunya.

Dalam penelitian, sekitar 45 persen wanita mengaku mereka pernah merasakan orgasme ketika sedang berolahraga. Olahraga yang dilakukan pun bukan jenis olahraga khusus, melainkan olahraga yang bisa dilakukan setiap hari. Sekitar 26 persen wanita mengaku merasakan orgasme ketika melakukan angkat beban, 20 persen ketika melakukan yoga, dan 15 persen mengaku merasakan orgasme ketika bersepeda.

 

5. Orgasme jempol

Mengisap jempol bagi orang dewasa adalah hal yang memalukan. Namun akan lebih aneh lagi jika ternyata mengisap jempol bisa membuat Anda merasakan orgasme. Hal ini benar-benar terjadi pada seorang pria bernama Rafe Briggs. Tahun lalu pria ini menemukan bahwa dia bisa merasakan orgasme dengan rangsangan terhadap jempol tangannya.

Menurut terapis seks, hal ini dinamakan dengan transfer orgasme. Briggs diketahui tak memiliki organ intim yang bisa bekerja dengan normal, sehingga kemungkinan bagian tubuh lainnya yang kemudian berperan seperti organ intim baginya. Faktanya, ketika seseorang mengelus, memijat, dan mengisap jempolnya, pria ini merasakan sensasi erotis yang bisa membuatnya orgasme.

 

Itulah beberapa cara aneh yang ternyata bisa membuat seseorang merasakan orgasme tanpa bercinta. Apakah Anda ingin mencoba salah satu cara di atas?

9 Makanan Alami Penambah Stamina Bercinta


Tahukah Anda bahwa bercinta tak hanya menyenangkan tetapi juga bermanfaat untuk kesehatan? Ya, seks diketahui baik untuk kesehatan jantung dan bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Namun, bagaimana jika Anda merasa lelah dan membutuhkan stamina untuk bercinta?

Jangan khawatir, Anda selalu bisa mengonsumsi makanan manis yang bisa meningkatkan stamina dan energi untuk bercinta. Berikut adalah beberapa makanan enak yang bisa membantu Anda lebih bertenaga sebelum melakukan hubungan seksual, seperti yang dikutip dari Merdeka.com.

 

1. Tomat
Tomat sangat baik untuk menambah stamina bagi Anda di malam hari. Lycopene di dalamnya juga akan membantu meningkatkan energi. Jangan lupa untuk menambahkan tomat pada makan malam Anda sebelum bercinta.

 

2. Buah tin
Buah tin memang masih sulit ditemukan di Indonesia. Namun buah yang satu ini bisa membantu Anda meningkatkan libido. Hal ini karena buah tin mengandung banyak asam amino yang bisa membantu Anda menjadi lebih hebat di atas ranjang.

 

3. Cokelat
Cokelat tak hanya berguna untuk meningkatkan mood, tetapi juga meningkatkan stamina Anda sebelum bercinta. Cokelat juga mengandung theobromine yang bisa meningkatkan energi alami dalam tubuh.

 

4. Alpukat
Alpukat juga dikenal sebagai makanan yang bisa meningkatkan stamina. Namun sebaiknya pria berhati-hati jika ingin mengonsumsi alpukat. Lebih baik jangan terlalu banyak jika tak ingin mengalami ejakulasi dini.

 

5. Madu
Madu adalah salah satu makanan manis yang sehat dan cocok dikonsumsi sebelum bercinta. Madu mengandung vitamin B yang meningkatkan produksi testosteron. Anehnya, makanan ini juga mengandung boron yang digunakan dalam produksi estrogen untuk wanita.

 

6. Wortel
Wortel tak hanya bagus untuk mata Anda. Wortel juga baik untuk meningkatkan stamina. Baik dimakan mentah ataupun direbus, wortel bisa memberikan tambahan tenaga sebelum bercinta.

 

7. Semangka
Ingin bercinta malam ini? Coba konsumsi semangka! Peneliti mengungkap bahwa semangka kaya akan citrulline yang bisa membuka pembuluh darah dan meningkatkan sirkulasi. Dengan kata lain, ini juga akan meningkatkan rangsangan yang Anda rasakan saat bercinta.

 

8. Vanilla
Banyak yang masih asing dengan makanan satu ini. Namun vanilla yang manis bisa meningkatkan sensasi seksual yang Anda rasakan. Vanilla merupakan makanan stimulan yang berimbas pada saraf Anda. Ini salah satu makanan terbaik yang bisa dikonsumsi sebelum bercinta.

 

9. Delima
Delima atau pomegranate adalah buah yang baik dikonsumsi sebelum bercinta. Buah ini akan meningkatkan aliran darah pada organ genital. Selain itu, buah ini juga diklaim bisa meningkatkan sensitivitas organ genital dan membuat seks semakin hebat!

 

Itulah beberapa jenis makanan yang bisa Anda konsumsi sebelum melakukan seks. Ingat, meski makanan di atas bisa memberikan stamina tambahan, namun stamina tak bisa didapatkan langsung dengan instan. Konsumsi makanan di atas saat makan malam, bukan beberapa saat sebelum bercinta, niscaya akan membuat anda dapat berkata seperti mbah marijan “Rosa .. Rosa!”

4 Jenis Cewek Nyebelin Ketika Digebet


Gebet menggebet adalah sebuah kegiatan yang harus kamu lalui sebelum akhirnya pacaran. Ya iyalah, gimana mau pacaran kalo sebelumnya belum suka-sukaan. Pada dasarnya sih kamu bisa dan sah aja menggebet semua orang. Problemnya, gak semua orang itu asik buat digebet. Berikut ini kita akan kasih tau kamu 4 jenis cewek yang sungguh menyebalkan ketika digebet.

 

1. Si Jual Mahal
Cewek yang suka jual mahal memang memiliki daya tarik tersendiri, mereka tidak akan gitu aja memberikan ‘lampu hijau’ untuk digebet. Banyak cowok yang merasa tertantang untuk menaklukan si cewek jual mahal ini, tapi gak sedikit juga yang akhirnya keki sendiri. Minggu-minggu pertama digebet, si cewek kelihatan jual mahal, setelah lebih dari sebulan, masih tetep aja cuek banget. Di-sms balesnya seperlunya doang. Kalau kamu tanya sesuatu kayak: “lagi ngapain nih?”, nggak pernah nanya balik. Ditelfon juga bikin bingung mau ngomong apa.

Jenis yang begini suka bikin bingung antara mau ngelanjutin pedekate atau ngerasa udah ditolak duluan sebelum nembak. Tapi kalau respon dari dia benar-benar dingin dan tidak antusias, mungkin kamu emang kurang ganteng.

 

2. Si Banyak Mau
Kalau yang satu ini memang terkesan ‘bisa banget digebet’ di awal fase penggebetan kamu. Orangnya ramah, terbuka, suka cerita-cerita bahkan curhat. Lama-lama dia mulai minta tolong ke kamu, mulai dari hal kecil, misalnya minta dijemput atau minta dibawain makanan. Kamu sebagai laki-laki yang lemah hatinya terhadap permintaan wanita pasti akan dengan antusias meng-iya-kan permintaan tolong si gebetan kamu. Kamu bisa masukin cewek yang matre ke dalam jenis ini juga.

Nah setelah beberapa lama digebet, kok si cewek makin aneh aneh aja permintaannya, misalnya: “Eh aku minta tolong banget dong potongin rumput rumah aku, kalau sempet sekalian atap rumahku disapu dan dipel”. Kalau dia terus-terusan minta yang aneh-aneh kayak gini, mungkin kamu memang dikira pembantu-freelance.

 

3. Si Nempel Sana Sini 
Mirip sama jenis yang kedua, cewek yang gampang nempel sana-sini itu memang terkesan ‘bisa banget digebet’. Bedanya, dia nggak tebar pesona ke semua cowok dengan alasan supaya bisa minta tolong, tapi emang bawaannya se

Tapi giliran kamu udah kecantol sama dia, kamu akan menyadari bahwa ada banyak banget cowok yang lagi pedekate sama dia juga, bukan cuma kamu doang. Kalau kamu adalah seorang cowok pencemburu dan sensitif perasaannya, ngegebet cewek jenis ini bisa membuat hati kamu tercabik-cabik. Tetapi semuanya akan baik-baik aja kalau kamu memang pro poliandri.

 

4. Si Belum-Belum Udah Posesif
Jenis ini merupakan kontra-nya jenis nomor 3. Jenis nomor 3 kan pengennya diperhatiin, nah kalau yang jenis ke 4 ini pengennya merhatiin mulu, kadang-kadang sampai sedikit berlebihan. Dikit-dikit nanyain: “Lagi apa? Sama siapa? Ngapain? Kenapa? Gimana? Kapan?”. Mungkin pada awalnya kamu seneng, karena pertanyaan-pertanyaan yang dia lontarkan itu menunjukkan perhatian dia ke kamu. Tapi kebayang nggak sih? Belum jadian aja udah kayak gitu posesifnya, gimana kalau besok jadian beneran?

Pedekate sama cewek yang posesif itu ada serunya juga, kamu nggak perlu repot-repot mikirin topik pembicaraan, karena dia bakal nanya-nanya terus ke kamu, kamu tinggal jawab doang. Tapi kadang rasanya jadi kayak napi gitu, tiap jam harus lapor. Atau jangan-jangan kamu memang pedekate sama sipir penjara dan sebenernya kamu emang baru keluar dari penjara dan wajib lapor?

Nah begitulah. Buat yang cowok, apakah kamu pernah mendekati salah satu dari 4 jenis cewek ini? Dan buat cewek…apakah kamu adalah salah satu dari 4 jenis cewek ini? Share di comments!

 

3 Film Terbaik Benyamin S Sepanjang Masa


Balik lagi di Nostlagia yang akan selalu membahas hal-hal yang sangat begelora di masa lalu bahkan masih terasa getarannya sampai sekarang. Sedap. Setelah Bang Rhoma yang soleh dan perkasa, marilah kita beralih ke Bang Ben yang jenius dan jenaka. Sungguh Indonesia beruntung sekali memiliki seniman seperti beliau. Marilah kita mengheningkan cipta sejenak sebelum memulai membahas tentang karya-karya beliau. Mengheningkan cipta, mulai….

Awraite! Kita mulai dari,

 

1. Betty Bencong Slebor (1978)

Bayangkan pada tahun tersebut, bang Ben sudah berani berperan dan mengangkat isu komunitas waria dalam filmnya. Etapi mungkin juga karena jaman itu belum ada efpei sih ya. Jadi ceritanya Si Betty ini bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga Bokir, seorang produser rekaman yang genit. Si Bokir bete lah dengan kehadiran Betty, karena biasanya dia suka godain setiap pembantu yang bekerja di tempatnya, tapi istrinya (yang diperankan oleh Aminah Cendrakasih) seneng-seneng aja dengan kehadiran Betty yang baik dan lucu. Betty bersahabat dengan Nasir, pembantu yang juga bekerja di tempat Bokir. Mereka sering keluar malam untuk nonton pertunjukan dangdut. Singkat cerita, Betty dan Nasir akhirnya dipecat oleh Bokir, menjadi pengamen dan kemudian bekerja di rumah Elvi (Sukaesih) yang merupakan penyanyi dangdut orbitan Bokir. Coba tonton lagi deh, gemes banget pengen cubit pipinya si Betty. Meskipun penokohan Betty ini sangat kuat dan diperankan dengan super duper gemilang tanpa cacat, tapi bang Ben sama sekali bisa lepas dari karakter ini dan tidak terjebak dalam imej si Betty.

Adegan paling diingat: waktu Betty kena razia polisi sama waktu ngamen di depan rumah Elvi.

 

2. Drakula Mantu (1974)

KK Dheeraj mesti belajar bikin horor komedi nih dari pelem ini. Dibandingin sama sejuta film horor lokal sekarang, Drakula Mantu jauh lebih serem, lebih kocak dan lebih pintar. Karena bukan sembarang komedi biasa, ada kritik sosial yang tersempal disana sini dalam film ini. Adalah Nya Abbas Akup sang sutradara yang emang maestro film-film komedi pintar macam Inem Pelayan Sexy, Bing Slamet Koboy Cengeng dll. Drakula Mantu bercerita tentang pasangan muda yang hendak membeli rumah di pinggir kota. Benyamin disini berperan sebagai pembantu yang disuruh membersihkan rumah tersebut. Tapi rupanya rumah tersebut sudah dihuni oleh keluarga setan yang merupakan penduduk-penduduk yang tergusur rumahnya (disini aja udah berasa sindirannya). Keluarga setan ini sedang persiapan menyambut keluarga Pangeran Drakula dari Eropa yang akan dinikahkan dengan putri mereka.  Terjadilah gesekan antara Benyamin yang berusaha mengusir (baca : menggusur lagi) para setan tersebut pada saat acara lamaran sedang dilakukan. Di film ini Bang Ben ngelawak dengan bahasa Indonesia baku, sama sekali gak ada logat betawi seperti biasa, tapi lucunya tetap bisa bikin rahang lepas dan tulang iga retak.

Adegan paling diingat: waktu Pangeran Drakula (Pong Harjatmo) ciuman bibir sama Puteri Setan dan taringnya nyangkut. Zzzz.

 

3. Intan Berduri (1972)

Ini mungkin komedi dengan sindiran paling perih yang pernah ada di sepanjang perfilman Indonesia. Memotret keluarga miskin Jamal (Benyamin S) dan Saleha (Rima Melati) yang sehari-hari mencari ikan di sungai untuk hidup. Saking miskinnya Jamal sampai dia harus meminta beras ke tetangga-tetangganya untuk membuat bubur anaknya yang sakit. Nasib Jamal berubah ketika ia menemukan intan sebesar kepalan tangan di sungai tempat ia biasa mencari ikan. Disinilah kelucuan-kelucuan dengan sindiran yang mengores nadi dimulai. Jamal langsung dikerubungi oleh para tetangga yang sebelumnya menutup pintu ketika Jamal meminta beras, bahkan  dukun yang menolak mengobati anak Jamal yang sakit, tiba-tiba datang membawa jampi. Penduduk berbondong-bondong sikut-sikutan membuat kapling-kapling di sungai dengan harapan menemukan intan yang sama. Bahkan pihak pemerintah tidak mau kalah ikut ambil bagian dalam kehebohan itu. Polisi datang mau mengamankan intan temuan itu, pengacara juga datang untuk membantu proses hukum dan birokrasi, Jamal dan Saleha dibawa ke kota, diajarin cara jadi orang kaya, makan biskuit dan minum soda, hahahaha, rumpi lah pokoknya. Tapi rupanya intan milik Jamal itu masih prematur dan belum bisa dibentuk (atau apalah gitu alasannya kita lupa), jadilah si Jamal kembali miskin. Hiks.

Adegan paling diingat: nama si pengacara yaitu Max Syiad dan waktu Jamal diajarin cara jadi orang kaya.

Aaaah jadi pengen nonton lagi yaaa. Apa film Benyamin S favorit kamu?